Karhutla Ancam Perbatasan Balangan dan HSU, BPBD Sepakat Perkuat Sinergi Cegah Api Meluas
Inews Amuntai- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui wilayah perbatasan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Kondisi musim kemarau yang kian ekstrem, ditambah dominasi lahan gambut di kawasan tersebut, membuat risiko karhutla meningkat tajam.
Mengantisipasi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari kedua kabupaten duduk bersama untuk membangun kesepakatan dan memperkuat koordinasi lintas daerah. Pertemuan ini digelar sebagai upaya nyata agar kejadian kebakaran tidak terulang dan tidak meluas hingga sulit dikendalikan.
“Kalau tidak cepat diantisipasi, kebakaran bisa merembet lebih luas. Apalagi kawasan perbatasan didominasi lahan gambut yang sangat mudah terbakar,” ujar salah satu pejabat BPBD yang hadir.

Baca Juga : Ribuan Warga HSU Larut dalam Shalawat Bersama Habib Syech dan Wagub Kalsel
Sinergi Dua Daerah Jadi Kunci
Menurut pejabat tersebut, sinergi antara Balangan dan HSU bukanlah hal baru. Selama ini kedua daerah sudah kerap bekerja sama dalam berbagai penanganan bencana. Namun, khusus menghadapi ancaman karhutla, koordinasi perlu terus diperkuat agar langkah yang diambil lebih efektif dan tepat sasaran.
“Kami sepakat untuk saling berbagi informasi dan cepat berkoordinasi jika muncul titik api. Harapannya, penanganan bisa lebih cepat, terarah, dan tidak menunggu hingga api membesar,” tambahnya.
Langkah Antisipatif: Dari Pemetaan hingga Patroli
Dalam kesepakatan bersama itu, kedua BPBD berkomitmen untuk memperkuat pemetaan titik-titik rawan kebakaran. Pemetaan ini penting agar tim patroli bisa lebih fokus melakukan pengawasan di area yang dianggap paling rentan.
Selain patroli gabungan, pemantauan berbasis laporan cepat dari masyarakat juga diperkuat. Sistem ini memungkinkan warga melapor segera jika melihat adanya tanda-tanda kebakaran, seperti asap atau percikan api kecil.
“Kami ingin masyarakat ikut terlibat aktif. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula tim bisa bergerak di lapangan,” tegas salah satu pejabat BPBD.
Harapan ke Depan
Kolaborasi dua kabupaten ini diharapkan mampu menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki wilayah perbatasan rawan karhutla. Dengan koordinasi yang baik, pembagian informasi yang cepat, serta kesigapan di lapangan, potensi kebakaran di musim kemarau bisa ditekan seminimal mungkin.
“Karhutla bukan hanya masalah satu daerah, tetapi persoalan bersama. Kalau api meluas, dampaknya bisa sampai ke berbagai wilayah. Karena itu, sinergi menjadi kunci utama,” pungkas pejabat tersebut.
















